Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Asphalt Mixing Plant Pengertian, Kapasitas dan Jenis

Asphalt-Mixing-Plant
Asphalt Mixing Plant

Asphalt Mixing Plant digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan jalan aspal sebagai tempat produksi aspal yang kemudian didistribusikan ke lokasi pekerjaan untuk dihampar dan dipadatkan.

Jenis Asphalt Mixing Plant? Berapa kapasitas produksi Asphalt Mixing Plant? dan apa saja bagian bagian dari Asphalt Mixing Plant? Silahkan disimak artikel dibawah ini sampai selesai. 

Memuat…

Pengertian Asphalt Mixing Plant

Asphalt Mixing Plant adalah suatu mesin yang terdiri dari beberapa bagian yang memiliki peran masing masing dalam proses pencampuran aspal.

Berdasarkan dari jenis cara memproduksi campuran beraspal dan kelengkapannya, Asphalt Mixing Plan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Asphalt Mixing Plant jenis takaran (batch plant)
b. Asphalt Mixing Plant jenis pencampur drum (drum mix) atau jenis menerus (continuous plant)

Perbedaan utama dari Asphalt Mixing Plant jenis takaran dan jenis drum adalah dalam hal kelengkapan dan proses bekerjanya. Pada Asphalt Mixing Plant jenis timbangan komposisi bahan dalam campuran beraspal ditentukan berdasarkan berat masing-masing bahan sedangkan pada Asphalt Mixing Plant jenis pencampur drum komposisi bahan dalam campuran ditentukan berdasarkan berat masing-masing bahan yang diubah ke dalam satuan volume atau dalam aliran berat per satuan waktu .

Perbedaan dalam hal kelengkapan dari kedua jenis Asphalt Mixing Plant tersebut adalah; Asphalt Mixing Plant jenis takaran dilengkapi saringan panas (hot screen), bin panas (hot bin), timbangan (weight hopper) dan pencampur (pugmill/mixer) sedangkan pada Asphalt Mixing Plant jenis pencampur drum kelengkapan tersebut tidak tersedia. 

Di Indonesia sebagian besar jenis Asphalt Mixing Plant jenis takaran. Sementara jenis menerus relatif sedikit dengan kapasitas yang kecil.

Kapasitas Produksi Asphalt Mixing Plant Jenis Timbangan

Kapasitas AMP bervariasi dan umumnya berkisar dari 500 kg sampai 1200 kg per batch atau lebih besar. Proses pencampuran untuk masing-masing batch sekitar 40 menit. Untuk jalan-jalan dengan lalu-lintas padat dan berat disarankan menggunakan kapasitas AMP yang lebih besar dari 800 kg per batch.  

Beberapa keunggulan dari penggunaan kapasitas 800 kg per batch atau lebih adalah sebagai berikut :
- Penggunaan kapasitas yang besar akan membantu menghasilkan campuran yang relatif seragam dan mengurangi faktor ketidakpastian.  

- Kapasitas yang lebih besar relatif lebih menjamin kelancaran pasokan campuran beraspal ke unit penghampar. Pasokan yang tidak lancar pada unit penghampar dapat mengakibatkan permukaan jalan tidak rata dan kepadatan tidak tercapai, karena campuran telah dingin sehingga sulit diratakan dan dipadatkan.

- Kapasitas yang besar akan mempercepat penyelesaian pekerjaan, yang berarti mengurangi gangguan terhadap kelancaran lalu-lintas. Pada jalan-jalan utama gangguan akibat adanya pekerjaan pelapisan ulang sangat besar pengaruhnya.

Bagian Bagian Asphalt Mixing Plant Jenis Timbangan

Bagian-bagian Asphalt Mixing Plant jenis timbangan, sesuai dengan nomor yang tertera pada Gambar dibawah ini:
1. Bin dingin (cold bins)
2. Pintu pengatur pengeluaran agregat dari bin dingin (cold feed gate)
3. Sistem pemasok agregat dingin (cold elevator)
4. Pengering (dryer)
5. Pengumpul debu (dust collector)
6. Cerobong pembuangan (exhaust stack)
7. Sistem pemasok agregat panas (hot elevator)
8. Unit ayakan panas (hot screening unit)
9. Bin panas (hot bins)
10. Timbangan Agregat (weigh box)
11. Pencampur (mixer atau  pugmill)
12. Penyimpanan bahan pengisi (mineral filler storage)
13. Tangki aspal (hot asphalt storage)
14. Sistem penimbangan aspal (aspal weigh bucket)

Bagian-Bagian-Asphalt-Mixing-Plant
Bagian Bagian Asphalt Mixing Plant

1. Bin dingin (cold bins)

Bin dingin (cold bin) adalah tempat penyimpanan fraksi agregat kasar, agregat sedang, agregat halus dan pasir. Bin dingin harus terdiri dari minimum 3 sampai 5 bak penampung (bin). Masing-masing bin berisi agregat dengan gradasi tertentu.

2. Pintu pengatur pengeluaran agregat dari bin dingin (cold feed gate) 

Pintu  pengeluaran agregat pada bin dingin (cold feed gate) dipasang di bagian bawah dari bin dingin, lubang pintu ini dilengkapi dengan skala yang angkanya menunjukkan besarnya lubang bukaan yang dapat diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan. Besarnya bukaan pintu pada setiap bin dingin yang telah berisi agregat dan siap untuk digunakan dalam pencampuran, harus dikalibrasi terlebih dahulu pada setiap kondisi dan jenis agregat yang akan digunakan.

3. Sistem pemasok agregat dingin (cold elevator)

Sistim pemasok agregat dingin dipasang pada empat atau lebih bin dingin, melalui bukaan atau pintu yang dapat diatur, agregat dingin diangkut melalui reciprocating feeder dan atau ban berjalan (belt conveyor) dan diteruskan menggunakan elevator dingin (cold elevator) menuju ke pengering (dryer).

4. Pengering (dryer)

Dari bin dingin agregat dibawa melalui elevator dingin dinaikkan ke dalam pengering (dryer) untuk dipanaskan dan dikeringkan pada temperatur yang diminta.

Pengering mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Menghilangkan kandungan air pada agregat.
2. Memanaskan agregat sampai temperatur yang disyaratkan.

5. Pengumpul debu (dust collector)

Alat pengumpul debu (dust collector) berfungsi sebagai alat pengontrol polusi udara di lingkungan lokasi Asphalt Mixing Plant. Gas buang yang keluar dari sistim
pengering ditambah dengan dorongan kipas pengeluar (exhaust fan) akan dialirkan ke pengumpul debu.

Secara umum terdapat beberapa jenis kombinasi sistim pengumpul debu, antara lain  :
- Sistim pengumpul debu jenis kering (dry cyclone dust collector), debu yang terbawa gas buangan diputar, sehingga partikel berat ke bagian bawah dan gas yang telah bersih keluar dari cerobong asap.  Partikel berat selanjutnya dikembalikan ke bin panas (hot bin) melalui sistim pengatur udara (air lock damper)

- Sistim pengumpul debu jenis basah (wet scrubber dust collector), debu yang terbawa gas buangan disemprot dengan air, sehingga partikel berat akan terjatuh ke bawah dan gas yang telah bersih keluar dari cerobong asap. Partikel berat tersebut kemudian dialirkan ke bak penampung (bak air). Jika pada bak air penampung terlihat jelaga yang mengambang dengan jumlah yang cukup banyak, maka hal ini menunjukkan terjadi pembakaran yang tidak sempurna pada pengering (dryer).

6. Sistem pemasok agregat panas (hot elevator)

Elevator panas atau hot elevator berfungsi sebagai pembawa agregat panas yang keluar dari silinder pengering atau dryer ke saringan (ayakan) panas atau hot screening unit untuk dipilah pilah sesuai ukuran fraksi masing-masing. Elevator panas ini berupa mangkok-mangkok atau bucket-bucket kecil yang dipasang pada rantai yang berputar naik ke atas, di mana setelah sampai di atas agregat panas yang berada dalam mangkok-mangkok kecil tadi ditumpahkan ke atas ayakan panas untuk dipisah-pisah sesuai ukuran fraksinya.

7. Unit ayakan panas (hot screening unit)

Agregat yang telah dikeringkan dan dipanaskan diangkut dengan mangkok elevator panas (hot elevator bucket) untuk disaring dengan susunan unit ayakan panas dan dipisahkan dalam beberapa ukuran yang selanjutnya dikirim ke bin panas (hot bin). Unit ayakan panas harus dibersihkan dan diperiksa setiap hari untuk menghindarkan dari kemungkinan rusak atau robek.

8. Bin panas (hot bins)

Pada Asphalt Mixing Plant jenis takaran umumnya akan terdapat 4 bin yang dilengkapi dengan pembatas yang rapat dan kuat dan tidak boleh berlubang serta mempunyai tinggi yang tepat sehingga mampu menampung agregat panas dalam berbagai ukuran fraksi yang telah dipisah-pisahkan melalui unit ayakan panas.

9. Timbangan Agregat (aggregate weight hopper)

Pada AMP jenis takaran terdapat dua macam timbangan untuk agregat yaitu timbangan untuk agregat dan timbangan untuk bahan pengisi (filler). Timbangan untuk agregat ditempatkan langsung di bawah bin panas (hot bin). Hasil penimbangan dari agregat langsung ditransmisikan oleh mekanisma timbangan pada skala penunjuk tanpa pegas, sehingga berat agregat tiap bin serta jumlah tiap takaran dapat dibaca.

10. Pencampur (mixer atau  pugmill)

Bahan pengisi (filler) sangat sensitif untuk mengeras karena pengaruh kadar air, oleh karena itu diperlukan wadah khusus (silo) agar bahan pengisi bebas dari pengaruh air. 

Terdapat dua sistim untuk memasok bahan pengisi ke dalam AMP yaitu sistim pneumatik dan mekanik. Untuk sistim pneumatik, bahan pengisi dimasukkan ke dalam pencampur dengan cara pengaliran seperti bahan cair, sedangkan untuk sistim makanik bahan pengisi dari silo dimasukkan ke dalam pencampur dengan menggunakan wadah-wadah yang dirangkai dengan ban berjalan sehingga merupakan elevator bahan pengisi. 

11. Tangki aspal (hot asphalt storage)

Tangki aspal pada Asphalt Mixing Plant harus cukup besar sehingga dapat menampung aspal yang memenuhi kebutuhan aspal saat Asphalt Mixing Plant dioperasikan, dan aspal yang terdapat di dalamnya dapat dengan mudah terlihat. Aspal harus cukup cair untuk dapat dialirkan dengan baik, oleh karena itu diperlukan penangas aspal. Terdapat beberapa jenis penangas aspal di dalam tangki, antara lain dengan sistim sirkulasi uap panas atau sirkulasi oli panas di dalam tangki aspal atau dapat juga dengan sistim elektrik.

12 Timbangan aspal (asphalt weight hopper)

Setelah aspal dipanaskan dalam tangki aspal pada temperatur yang ditentukan berdasarkan tingkat keencerannya, maka aspal panas dialirkan melalui pipa pemasok untuk ditimbang beratnya sesuai dengan yang dibutuhkan sebelum dimasukkan ke dalam pencampur (mixer/pugmill).

13. Pencampur (mixer atau pugmill)

Setelah aspal, agregat dan bahan pengisi (bila perlu) ditimbang sesuai dengan komposisi yang direncanakan, bahan tersebut dimasukkan ke dalam pencampur
(mixer/pugmill). Waktu pencampuran harus sesingkat mungkin untuk mencegah oksidasi yang berlebih namun harus diperoleh penyelimutan yang seragam pada semua butir agregat. Dalam pugmill terjadi dua jenis pencampuran, yaitu pencampuran kering dan pencampuran basah (setelah ditambah aspal).

14. Sistem kontrol operasi (operation control system)

Terdapat tiga jenis sistim kontrol operasional yang dilakukan dalam suatu ruang kontrol (room control) yaitu:
a. Sistem manual
Pada sistem kontrol dengan fasilitas manual, pengoperasian dilakukan dengan mengatur sakelar menggunakan tangan. Operasional pekerjaaan yang dapat diatur secara manual yaitu mulai dari pengaturan pasokan agregat dan aspal, penimbangan, pencampuran dan pengeluaran campuran dari pencampur (mixer).

b. Sistem semi otomatis
Pada fasilitas semi otomatis, semua operasi dari bukaan pintu pada timbangan ke pencampur dilakukan dengan kontrol otomatis mulai dari pengaturan pasokan agregat dan aspal, sampai pengeluaran campuran dari pencampur (mixer/pugmill).

c. Sistem otomatis yang akan bekerja secara elektrik dan pneumatik.
Pada falilitas otomatis dengan sistem komputerisasi, semua kegiatan dilakukan secara otomatis, termasuk juga mengontrol pembakaran (burner) pada pengering (dryer) dan pemasok agregat dingin dan kontrol proporsinya.

Kesimpulan

Unit Pencampur Aspal atau Asphalt Mixing Plant berperan penting dalam memproduksi aspal kemudian didistribusikan ke lokasi pekerjaan untuk dihampar dan dipadatkan. Waktu pelaksanaan jalan aspal sangat dipengaruhi oleh kapasitas produksi dari Unit Pencampur Aspal atau Asphalt Mixing Plant.

Apabila sobat Sipilgo ingin mengikuti atau berlangganan artikel dari kami silahkan mengunjungi di :

Telegram Instagram Youtube Facebook

Sekian artikel yang berisi tentang Asphalt Mixing Plant Pengertian, Kapasitas dan Jenis, semoga bisa bermanfaat. Jangan lupa untuk selalu berbagi satu kebaikan dengan cara share atau bagikan artikel ini ke teman-teman di sosial media, terimakasih.

Post a Comment for "Asphalt Mixing Plant Pengertian, Kapasitas dan Jenis"