Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengujian Agregat Konstruksi Jalan| Sipilgo

Pengujian-Agregat-Pada-Konstruksi-Jalan
Pengujian Agregat Pada Konstruksi Jalan

Halo Sobat Sipilgo!!! bagaimana kabar kalian hari ini? Saya doakan semoga kalian diberikan kekuatan sehat umur panjang, dimudahkan rejeki dan urusannya.
Amin allahumma amin. 

Pada kesempatan kali ini sipilgo akan menyajikan artikel tentang Pengujian Agregat Konstruksi Jalan. Apa yang dimaksud klasifikasi aspal dan bagaimana sifat-sifat aspal, silahkan simak artikel ini sampai akhir. 

Memuat…

Pengujian Agregat Konstruksi Jalan

Pengujian agregat diperlukan untuk mengetahui karakteristik fisik dan mekanik agregat sebelum digunakan sebagai bahan campuran beraspal panas. Sehingga perkerasan jalan terjaga mutunya dan perkerasan jalan tidak gampang atau mudah mengalami kerusakan.

Beberapa pengujian agregat adalah sebagai berikut ini :
1. Metode Pengambilan Contoh (Sampling)
2. Pengujian Analisa Ukuran Butir (Gradasi)
3. Pengujian Berat Jenis Dan Penyerapan
4. Penyerapan (Absorpsi)
5. Pemeriksaan Keausan Dengan Mesin Abrasi
6. Pengujian Setara Pasir (Sand Equivalent)
7. Pemeriksaan Gumpalan Lempung Dan Butiran Yang Mudah Pecah Dalam Agregat
8. Pemeriksaan Daya Lekat Agregat Terhadap Aspal (Affinity)
9. Angularitas
10. Pemeriksaan Kepipihan Agregat
11. Pengujian Partikel Ringan Dalam Agregat

Mari kita bahas satu per satu, dimulai sesuai dengan urutan nomor terkecil.

1. Metode Pengambilan Contoh (Sampling)

Metode pengambilan contoh agregat yang digunakan untuk pekerjaan campuran aspal panas adalah berdasarkan ASTM D75-87. Secara garis besar diuraikan sebagai berikut :

1. Segregasi agregat
Agregat yang digunakan sebagai bahan jalan terdiri atas beberapa fraksi dari kasar hingga halus dan diusahakan merupakan suatu campuran yang homogen. Contoh pengujian diharap dapat mewakili keadaan agregat yang sebenarnya. Jika agregat tersebut mengalami segregasi, maka tidak boleh digunakan. 

2. Pengambilan contoh agregat dari gerbong kereta, truk, tongkang dan kapal laut 
Agregat harus diambil dari tiga atau lebih parit yang memotong timbunan agregat pada titik-titik yang diperkirakan mewakili agregat tersebut.

3. Pengambilan contoh agregat dari ban berjalan (conveyor belt)
Untuk mendapatkan contoh agregat dari ban berjalan (conveyor belt) misal conveyor pada unit pencampur aspal (AMP). Menghentikan ban berjalan dan pilih jumlah contoh yang diinginkan pada ban berjalan dengan menggunakan plat acuan atau pemisah.

4. Pengambilan contoh agregat dari bin panas (hot bin)
Pengambilan contoh agregat panas dan atau dingin diperlukan untuk pemeriksaan gradasi. Contoh agregat panas untuk setiap fraksi diambil dari masing-masing bin panas (hot bin) yang telah dilengkapi dengan fasilitas untuk pengambilan contoh.

5. Kontainer contoh agregat
Kantong tahan panas dengan kapasitas sekitar 30 kg agregat digunakan untuk tempat contoh agregat yang akan dibawa ke laboratorium. Label contoh dilampirkan pada setiap kantong sebagai tanda pengenal jenis dan sumber contoh agregat.

6. Alat pembagi contoh
Kuantitas pengambilan contoh agregat hendaknya lebih banyak daripada jumlah sebenarnya yang dibutuhkan untuk pengujian. Untuk memperkecil jumlah dan mendapatkan contoh yang mewakili dalam pengujian.

2. Pengujian Analisa Ukuran Butir (Gradasi)

Gradasi agregat adalah pembagian ukuran butiran yang dinyatakan dalam persen dari berat total. Tujuan utama pekerjaan analisa ukuran butir agregat adalah untuk pengontrolan gradasi agar diperoleh konstruksi campuran yang bermutu tinggi. 

Batas gradasi diperlukan sebagai batas toleransi dan merupakan suatu cara untuk menyatakan bahwa agregat yang terdiri atas fraksi kasar, sedang dan halus dengan suatu perbandingan tertentu secara teknis masih diijinkan untuk digunakan. 

Analisa saringan ada 2 macam yaitu analisa saringan kering dan analisa saringan dicuci (analisa saringan basah). Analisa saringan kering biasanya digunakan untuk
pekerjaan rutin untuk agregat normal. Namun bila agregat tersebut mengandung abu yang sangat halus atau mengandung lempung, maka diperlukan analisa saringan dicuci.

Analisa saringan kering biasanya digunakan untuk pekerjaan rutin untuk agregat normal. Namun bila agregat tersebut mengandung abu yang sangat halus atau mengandung lempung, maka diperlukan analisa saringan dicuci. 

3. Pengujian Berat Jenis Dan Penyerapan

Berat Jenis
Berat jenis suatu agregat adalah perbandingan berat dari suatu satuan volume bahan terhadap berat air dengan volume yang sama pada temperatur 20–25&degC. 

Dikenal beberapa macam Berat Jenis agregat, yaitu :
a. Berat Jenis semu (apparent specific gravity)
b. Berat Jenis bulk (bulk specific gravity)
c. Berat Jenis efektif (effective specific gravity)

4. Penyerapan (Absorpsi)

Agregat hendaknya sedikit berpori agar dapat menyerap aspal, sehingga terbentuklah suatu ikatan mekanis antara film-aspal dan butiran batu. Agregat berpori banyak akan menyerap aspal besar pula sehingga tidak ekonomis. Agregat berpori terlalu besar umumnya tidak dapat digunakan sebagai bahan campuran beraspal.

5. Pemeriksaan Keausan Dengan Mesin Abrasi

Pada pekerjaan jalan, agregat akan mengalami proses tambahan seperti pemecahan, pengikisan akibat cuaca, pengausan akibat lalu lintas. Guna mengatasi hal tersebut, agregat harus mempunyai daya tahan yang cukup terhadap pemecahan (crushing), penurunan (degradation) dan penghancuran (disintegration)

Agregat dengan nilai keausan yang besar  mudah pecah selama pemadatan atau akibat pengaruh beban lalu-lintas atau hal lainnya tidak diijinkan karena beberapa sebab :
a. Gradasi akan berubah karena agregat yang kasar akan menjadi butiran yang halus. Dengan demikian agregat mempunyai gradasi yang tidak memadai.

b. Agregat yang lemah tidak akan menghasilkan lapisan yang kuat karena bidang pengunci yang bersudut mudah pecah.

6. Pengujian Setara Pasir (Sand Equivalent)

Agregat yang digunakan sebagai bahan jalan harus bersih, bebas dari zat-zat asing seperti tumbuhan, butiran lunak, gumpalan tanah liat (lempung) atau lapisan tanah liat (lempung). Kebersihan agregat sering dapat dilihat secara visual, namun dengan suatu analisa saringan disertai pencucian agregat akan memberikan hasil yang lebih akurat, bersih atau tidaknya agregat tersebut. 

Pengujian setara pasir (sand equivalent test) dilakukan untuk menentukan perbandingan relatif dari bagian yang dapat merugikan (seperti butiran lunak dan lempung) terhadap bagian agregat yang lolos saringan No.4.

7. Pemeriksaan Gumpalan Lempung Dan Butiran Yang Mudah Pecah Dalam Agregat

Sebagai bahan jalan, butiran agregat yang lemah tidak dikehendaki. Butiran-butiran yang menjadi lemah jika terkena air lebih tidak diinginkan karena perkerasan jalan akan terkena tingkat kebasahan yang tinggi, selain hal tersebut jika sampai pecah biasanya menunjukkan suatu kecenderungan bahwa butiran lemah ini mengandung lempung. Alat dan prosedur pengujian diuraikan pada SNI 03-4141-1996.

8. Pemeriksaan Daya Lekat Agregat Terhadap Aspal (Affinity)

Stripping yaitu pemisahan aspal dari agregat akibat pengaruh air, dapat membuat agregat tidak cocok untuk bahan campuran beraspal karena bahan tersebut mempunyai sifat hydrophylik (senang terhadap air). 

Sedangkan agregat bersifat hydrophobik (tidak suka kepada air) merupakan bahan agregat yang cocok untuk campuran beraspal. Prosedur pengujian untuk menentukan kelekatan agregat terhadap aspal dengan berbagai pelapisan yaitu pelapisan agregat dengan aspal cair, aspal emulsi dan aspal keras diuraikan pada SNI 06-2439-1991.

9. Angularitas

Angularitas merupakan suatu pengukuran penentuan jumlah agregat berbidang pecah. Susunan permukaan yang kasar yang menyerupai kekasaran kertas ampelas mempunyai kecenderungan untuk menambah kekuatan campuran, dibanding dengan permukaan yang licin.

Tatacara pengujian angularitas agregat kasar diuraikan oleh Pennsylvania DoT Test Method No.621 dan angularitas agregat halus ditentukan berdasarkan AASHTO TP-33 atau ASTM C 1252. 

10. Pemeriksaan Kepipihan Agregat

Bentuk butir (particle shape) agregat dibedakan menjadi 6 katagori yaitu bulat, tidak beraturan, berbidang pecah (angular), pipih, panjang, pipih dan lonjong. Pada umumnya ikatan antar butir yang baik diperoleh apabila bentuk butir bersudut tajam dan berbentuk kubus. 

Ikatan antar butir yang paling buruk adalah pada butiran agregat yang berbentuk bulat. Agregat berbentuk kubus mempunyai kecenderungan untuk saling mengunci satu sama lain apabila dipadatkan. 

11. Pengujian Partikel Ringan Dalam Agregat

Adanya partikel ringan pada agregat dengan jumlah besar yang digunakan sebagai campuran aspal panas akan mengganggu stabilitas campuran. Partikel ringan yang dimaksud adalah partikel yang mengapung di atas larutan yang berat jenisnya 2. Pengujian untuk mengetahui kadar partikel ringan pada agregat diuraikan pada SNI 03-3416-1994.

Kesimpulan

Pengujian agregat diperlukan untuk mengetahui karakteristik fisik dan mekanik agregat sebelum digunakan sebagai bahan campuran beraspal panas. Persyaratan rentang karakteristik kualitas agregat dilihat darai beberapa pengujian seperti yang sudah dijelakan diatas.

Apabila sobat Sipilgo ingin mengikuti atau berlangganan artikel dari kami silahkan mengunjungi di :

Telegram Instagram Youtube Facebook

Sekian artikel yang berisi tentang Pengujian Agregat Konstruksi Jalan, semoga bisa bermanfaat. Jangan lupa untuk selalu berbagi satu kebaikan dengan cara share atau bagikan artikel ini ke teman-teman di sosial media, terimakasih.

Post a Comment for "Pengujian Agregat Konstruksi Jalan| Sipilgo"