Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

13 Pengujian Aspal Pada Konstruksi Jalan| Sipilgo

13-Pengujian Aspal Konstruksi-Jalan
13 Pengujian Aspal Konstruksi Jalan

Halo Sobat Sipilgo!!! bagaimana kabar kalian hari ini? Saya doakan semoga kalian diberikan kekuatan sehat umur panjang, dimudahkan rejeki dan urusannya.
Amin allahumma amin.

Pada kesempatan kali ini sipilgo akan menyajikan artikel tentang 13 Pengujian Aspal Konstruksi Jalan. Apa yang dimaksud klasifikasi aspal dan bagaimana sifat-sifat aspal, silahkan simak artikel ini sampai akhir. 

 
Memuat…

Pengujian Aspal Konstruksi Jalan

Pengujian aspal meliputi pengujian aspal keras (padat), cair dan emulsi. Aspal cair atau aspal emulsi pada pekerjaan aspal campuran panas umumnya digunakan sebagai lapis resap (prime coat) atau lapis pengikat (tack coat). Pengujian ini dilakukan sebelum dilaksanakan pekerjaan penghamparan dan pemadatan aspal, guna menjaga mutu agar awet dan tahan lama sesuai dengan umur rencana.

Jenis Jenis Pengujian Aspal

1. Penetrasi

Metode pengujian ini untuk mendapatkan angka penetrasi dan dilakukan pada aspal keras atau lembek. Hasil pengujian ini selanjutnya dapat digunakan dalam pekerjaan pengendalian mutu aspal keras atau ter dan untuk keperluan pembangunan atau pemeliharaan jalan. 

Metode ini merujuk pada SNI 06-2456-1991 sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanan untuk menentukan penetrasi aspal keras atau lembek (solid atau semisolid) dengan tujuan untuk menyeragamkan cara pengujian dan pengendalian mutu bahan dalam pelaksanan pembangunan.

2. Titik lembek

Metode pengujian ini untuk menentukan titik lembek aspal padat dan ter dengan cara ring and ball. Hasil pegujian ini selanjutnya dapat digunakan untuk menetukan kepekaan aspal terhadap suhu. Metode ini merujuk pada SNI 06-2434-1991 sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian titik lembek aspal dan ter.

3. Daktilitas

Standar ini mencakup pengujian daktilitas aspal keras, residu aspal emulsi, residu aspal cair dan bitumen aspal alam yang menunjukkan pemuluran aspal. Metode ini merujuk pada SNI 06-2432-1991 sebagai acuan dan pegangan teknisi laboratorium, produsen aspal agar diperoleh keseragaman cara uji serta digunakan untuk mengukur pemuluran aspal sesuai persyaratan dan spesifikasi aspal.

4. Kelarutan dalam C2HCl3

Pengujian ini dilakukan untuk mendapatkan nilai kadar aspal dari bahan-bahan yang mengandung aspal. Metode ini merujuk pada SNI 06-2438-1991 sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian kadar aspal dari bahan-bahan yang mengandung aspal.

5. Titik nyala

Pengujian ini dilakukan untuk mendapatkan besaran cara titik nyala dan titik bakar bahan aspal dengan clevenland open cup. Metode ini merujuk pada SNI 06-2433-2011. Titik nyala dapat digunakan untuk mengukur kecenderungan aspal dapat terbakar akibat panas dan api pada kondisi terkontrol di laboratorium. Hasil tersebut dapat digunakan sebagai informasi perihal bahaya kebakaran yang sesungguhnya di lapangan.

6. Berat Jenis

Pengujian ini dilakukan untuk menentukan fraksi aspal cair dengan cara penyulingan agar diperoleh mutu aspal cair yang tepat untuk perencana dan pelaksanaan konstruksi jalan serta keseragaman cara uji. Metode ini merujuk pada SNI 06-2488-2011.

7. Kehilangan berat 

Pengujian ini dilakukan untuk menentukan berat jenis aspal padat. Metode ini merujuk pada SNI 06-2441- 1991 sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian berat jenis aspal padat dan ter dengan piknometer. 

8. Penetrasi setelah kehilangan berat

Penetrasi adalah masuknya jarum penetrasi ukuran tertentu, beban tertentu, dan waktu tertentu ke dalam aspal pada suhu tertentu. Metode ini merujuk pada SNI 06-2456-1991 sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanan untuk menentukan penetrasi aspal keras atau lembek (solid atau semisolid) dengan tujuan untuk menyeragamkan cara pengujian dan pengendalian mutu bahan dalam pelaksanan pembangunan.

9. Daktilitas setelah kehilangan berat

Daktalitas aspal adalah nilai keelastisan aspal. Yang diukur dari jarak terpanjang, apabila antara dua cetakan berisi bitumen keras ditarik sebelum putus
pada suhu 25 C dan dengan kecepatan 50 mm/menit. Metode ini merujuk pada SNI 06-2432-1991 sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian daktilitas bahan aspal. 

10. Kadar air

Tujuan pengujian untuk mengetahui adanya air pada aspal cair. Air yang terdapat pada aspal menyebabkan timbulnya busa pada waktu dipanaskan dan hal ini membahayakan. Metode ini merujuk pada SNI 06-2439-1991.

11. Pengujian kekentalan Aspal Emulsi

Pengujian dilakukan dengan alat Saybolt Furol, digunakan untuk mengklasifikasi jenis aspal emulsi. Pengujian ini digunakan untuk mengklasifikasi jenis aspal emulsi. 

12. Pengujian penyulingan Aspal Emulsi

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui persentase kadar residu aspal emulsi. Metode ini merujuk pada SNI 03-3642-1994.

13. Kelekatan Dan Daya Tahan Terhadap Air

Tujuan pengujian adalah untuk mengetahui kelekatan aspal emulsi terhadap agregat dan ketahanan terhadap air. Pengujian khususnya untuk jenis aspal emulsi mantap sedang (MediumSetting). 
Metode ini merujuk pada SNI 03-3645-1994

Kesimpulan

Pengujian aspal meliputi pengujian aspal keras (padat), cair dan emulsi. Aspal cair atau aspal emulsi pada pekerjaan aspal campuran panas umumnya digunakan sebagai lapis resap (prime coat) atau lapis pengikat (tack coat). Tujuan dari pengujian ini adalah untuk memastikan apakah aspal yang akan digunakan layak apa tidak.

Apabila sobat Sipilgo ingin mengikuti atau berlangganan artikel dari kami silahkan mengunjungi di :

Telegram Instagram Youtube Facebook

Sekian artikel yang berisi tentang 13 Pengujian Aspal Konstruksi Jalan, semoga bisa bermanfaat. Jangan lupa untuk selalu berbagi satu kebaikan dengan cara share atau bagikan artikel ini ke teman-teman di sosial media, terimakasih. 

Post a Comment for "13 Pengujian Aspal Pada Konstruksi Jalan| Sipilgo"